So, di post kali ini dibagikan sebuah naskah (bisa jadi teater atau drama) yang jadi satu projek akhir mapel Bahasa Indonesia. Meskipun masih kalah jauh sama naskah buatan penulis terkenal seperti Putu Wijaya, tapi sebagai anak Bali kami bangga bisa menyelesaikan naskah ini (hubungannya dimana?). Sedikit info, naskah ini dibuat oleh empat penulis remaja yang lagi digandrungi kenikmatan menulis. Keempat anak muda itu adalah Gede Agus Andika Sani, Pande Nengah Purnawan, I Gusti Agung Ray Padmayoni Dewantari, dan Putu Sandra Iswaramba. Naskah ini didedikasikan untuk mereka yang hidupnya bergantung pada kehidupan malam oleh SPADAWAN (Sebelas IPA 2 yang Menawan). Habis baca dikomen ya... :)
Kunang-Kunang Pagi
XI IPA 2
TA 2012/2013
PROLOG
Hidup dan kehidupan. Selalu ada banyak
pertanyaan di kepalaku tentang dua kata ini. Aku sudah mencoba mencari jawaban
ke berbagai arah juga di berbagai sumber. Tapi tak ada yang memberi jawaban
pasti dari semua pertanyaan yang kuajukan, tentang apa itu kehidupan dan untuk
apa manusia hidup? Atau lebih tepatnya, kenapa harus hidup sebagai manusia?
Namaku Padma. Nama yang singkat namun
kata banyak orang namaku punya arti yang suci. Aku hanya memberi senyum ketika
orang-orang memuji namaku walau sesungguhnya aku tak pernah tahu apa maksud
ayah memberiku nama Padma. 14 Januari 1986 aku lahir di sebuah keluarga yang
hingga kini pun masih belum bisa aku pahami. Aku lahir di dunia sebagai
manusia, dari rahim seorang ibu yang hingga kini belum pernah kulihat wajahnya
secara langsung.
Dua puluh lima tahun sudah aku hidup
sebagai seorang perempuan tanpa kasih sayang ibu. Aku yakin, banyak yang
bingung atau bahkan menganggap aku bukan apa-apa di dunia mereka. Aku juga tak
yakin, mereka menjadi sesuatu di duniaku. Meskipun duniaku di siang hari,
duniaku di malam hari selalu dipenuhi mereka. Mereka yang menganggap aku
sebagai perempuan atau hanya melihatku sebagai jalang. Mereka tak pernah tahu
bagaimana rasanya hidup seperti aku, di tengah keluarga yang tak mudah
dipahami, sebagai perempuan yang tak bisa dipahami, dan sebagai aku yang ingin
dipahami.
Terlebih lagi dunia yang sama sekali tak
bisa dipahami. Jangankan memahami dua dunia yang telah kujalani, satu dunia saja
tak becus. Menjalani dunia siang, semua memandang dua mata. Mata yang memandang
tak hanya dua, mata-mata itu memandang kesucian namaku. Memandang bagaimana
seni mengalir dalam darahku. Haha… apalagi bila yang memandang itu mata Bagus.
Bagus, kawanku yang cinta seni. Memandangku dengan penuh tatapan sayang,
tatapan kagum, menatap dengan damai.
Mata itu, mata mereka, tak ada yang
menatap benar tentang dunia malam. Tak terkecuali juga Bagus. Matanya tak lagi
menatapku penuh saat dia tahu aku punya dua dunia. Tentu aku marah. Ya, aku
marah ketika tak ada lagi yang memandangku dengan dua mata. Aku membenci ini.
Membenci mereka yang tak bisa memahami aku. Tapi, haruskah aku juga membenci
Bagus karena dia juga bagian dari mereka? Lalu siapa yang bisa kubenci? Diriku
sendiri? Tidak, aku tak akan mau menyalahkan diriku sendiri, tak akan mau
menyalahkan duniaku. Aku, juga tak akan mau menyalahkan kehidupanku meski aku
masih belum tahu apa arti hidup dan kehidupan.
BABAK I
Panggung sepi. Lampu remang-remang. Di
balik siluet si Ibu berteriak sementara Dukun mulai membantu proses persalinan.
Ayah masuk ke panggung dari sisi samping. Mondar-mandir sendiri, menundukkan
kepala. Bercucuran keringat dingin dari keningnya. Sesekali Ayah melirik ke
arah siluet.
Ayah :
“Kenapa lama sekali? Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi.”
Siluet dibuka. Ayah menepi menunggu
proses persalinan selesai.
Ibu :
“Aaaaaaa…….”
Dukun :
“Ayo, Bu. Dorong lebih kuat, sedikit lagi.”
Ibu :
(napasnya memburu) “Aaaaaaa……” (berteriak lebih kencang) “Aku tak kuat lagi.”
Dukun :
“Sedikit lagi, Bu. Kepalanya sudah kelihatan, Bu. Di hitungan ketiga ya, Bu.
Satu… dua… tiga…”
Ibu :
“Aaaaaa…..” teriakan melengking kesakitan.
Teriakan itu tiba-tiba berhenti. Gemuruh
memenuhi suasana ditemani suara tangisan bayi. Ayah mendekati Dukun. Siluet
masih terbuka dan Ibu terkulai lemah.
Ayah :
“Mbah, anak saya gimana?”
Dukun :
“Pak, anak Bapak perempuan, cantik.” (menyodorkan bayi kepada Ayah)
Ayah :
“Sayang, anak kita perempuan. Kamu mau kasi dia nama siapa?”
Ibu diam tak bergerak dan tak menjawab.
Dukun membersihkan bayi dan Ayah mulai cemas.
Ayah :
“Mbah, istri saya kenapa?”
Dukun :
“Istrimu… istrimu meninggal, Lik. Dia kehabisan banyak darah, Mbah gak bisa
bantu.”
Ayah :
(terisak) “Sayang, mengapa kamu
memejamkan matamu? Anak kita baru saja lahir, anak pertama yang kita
bangga-banggakan. Ayo lekaslah buka matamu, anak kita cantik sekali
seperti kamu.”
(Ayah mengguncang tubuh Ibu)
Ayah tak memandang Bayi. Ayah masih
terisak dan mencoba membangunkan Ibu.
Ayah :
“Sayang… sayang… sayaaaaaang…” (Ayah memeluk tubuh Ibu)
Lampu mati.
BABAK II
Panggung semakin terang. Matahari
menyembul di sisi kanan panggung. Cicit burung menghiasi suasana panggung. Padma kecil berlari masuk ke panggung lewat pintu
belakang. Ia turut serta membawa sebuah boneka anjing yang dipeluknya erat.
Rambut panjang nan indahnya ikut bergerak mengikuti irama langkah kecilnya. Padma melompat-lompat di taman belakang rumahnya. Tak jarang ia terjatuh lalu tak lama ia
bangkit lagi dengan semangat yang lebih besar lagi. Wajahnya seriang matahari
yang menyinari hari ini. Padma kecil kemudian duduk di pinggir
panggung, memainkan bonekanya. Ayah masuk dari belakang panggung, melihat
putrinya lalu ikut duduk di pinggir panggung, di samping kiri Padma kecil.
“Cit cit
cit” (suara anak burung di atas pohon) Padma menoleh
sekitar dengan bingung.
Padma :
“Ayah,
dimana anak burung itu?”
Ayah :
“Mereka ada di dalam sarang yang terletak di atas pohon
itu.”
(Ayah menunjuk sebuah pohong di pinggir panggung)
Padma :
“Kenapa mereka ribut sekali ayah?”
Ayah :
“Mereka pasti kelaparan, Padma. Ibu mereka pasti sedang
mencari makanan untuk mereka makan.”
Padma :
“Kalau anak-anak burung itu tidak punya ibu seperti
Padma, mereka pasti akan mati kan ayah? Karena mereka tidak ada yang memberi
makan. Untung saja Padma bukan burung.” (Ayah
tersentak) “Ayah, burung favorit ayah apa?”
Ayah :
“Burung merpati, Padma.
Burung yang sangat cantik. Mereka tidak akan mencari pasangan lain jika
pasangan mereka mati.”
Padma :
“Oh, berarti ayah adalah burung merpati. Ayah tidak akan
mencari pasangan lain kan ayah?”
Ayah :
“Hmm… kamu sudah bisa mengartikannya sendiri, Nak. (menghela napas) Malang benar nasibmu Padma, seandainya Ibumu masih ada.
Pasti kebahagiaan masa kecilmu akan semakin lengkap. Sekarang,
kondisi Ayah sudah mulai melemah tapi Ayah akan tetap menjagamu, Nak.”
Padma tersenyum pada Ayahnya.
Ayah :
“Padma,
hari sudah sore dan sudah saatnya kamu mandi. Ayo kita masuk.” Ayah padma merangkul anaknya dan membawanya masuk ke
belakang panggung.
BABAK III
Padma remaja
masuk ke panggung.
Sebuah bangku taman berwarna hijau muda berdiri tenang di sebelah kanan
panggung. Padma menduduki kursi itu dengan latar taman di belakangnya. Rumput hijau tua dengan jajaran pohon bunga di dekat
pagar. Padma menatap ke langit sore
yang indah. Bagus
kemudian memasuki panggung dan mendekati Padma.
Bagus :
“Padma…” Bagus mendekati Padma, “Padma, kamu masih ingat aku?”
Padma :
“Bagus?” (Bagus mengangguk) “Ya Tuhan, sudah bertahun-tahun sejak terakhir kita
bertemu. Kamu kemana saja? Apa kamu sudah mulai lupa dengan teman kecilmu ini?”
(Padma mencubit lengan Bagus)
Bagus :
“Tidak, Padma. Aku tak pernah lupa denganmu, tahun-tahun belakangan ini aku
sedikit sibuk dengan sekolahku jadinya jarang aku bisa datang ke rumahmu.”
(Padma hanya tersenyum) “Kamu masih suka menari?”
Padma :
“Masih, dari dulu hanya menari yang bisa kulakukan untuk menghilangkan penat.
Tak hanya itu, aku sedang menciptakan tari baru sekarang. Siapa tahu nanti aku
bisa jadi maestro tari. Kamu sendiri, masih suka main gamelan?”
Bagus :
“Tentu masih, kupikir kamu tak akan percaya kalau aku juga mempelajari gitar
dan biola.”
Padma :
“Wah… ternyata kamu mulai merambah dunia modern ya? Tapi tak apa, itu bagus
juga untuk menambah pengalaman.”
Padma dan Bagus saling pandang sejenak,
tepat dari mata ke mata. Ayah dan Tante Yuni masuk ke panggung memecahkan
pandangan Padma dan Bagus.
Ayah :
“Bagus, sudah lama nemenin Padma di sini?”
Bagus :
“Om, (Bagus menyalami tangan Ayah) baru saja saya sampai di sini.”
Ayah :
“Sering-sering saja kamu datang kemari biar Padma ada temannya.”
Padma :
“Dengar tuh kata ayah, jangan setahun sekali main ke rumahku.”
Semua yang berada di panggung tertawa
kecil.
Ayah :
“Padma, hari ini ayah ingin berbicara sebentar sama kamu dan Tante Yuni, bisa
kan?”
Bagus :
“Wah… sepertinya ini akan menjadi pembicaraan serius. Saya pulang dulu ya Om,
takut mengganggu. Pamit om, tante, sampai jumpa Padma” (sambil menyalami om dan tante lalu melambaikan tangan
pada Padma)
Ayah :
“Kapan-kapan main ke sini lagi ya, Bagus.”
Bagus meniggalkan panggung. Padma
melambaikan tangannya menemani kepergian Bagus.
Padma :
“Ada apa, Yah? Masalah serius atau hanya mau senda gurau?”
Ayah :
“Ayah mau jujur, Ayah tidak mau terlalu lama menyimpan rahasia dari kamu.”
Padma :
“Rahasia? Tentang apa, Yah? Dan, siapa perempuan ini?”
Ayah terdiam.
Yuni :
“Sepertinya ini akan cukup berat untuk kamu terima. Saya Yuni, istri ayahmu.
Setahun yang lalu ayahmu menikahi saya dan besok kami akan menggelar syukuran
sekaligus mengumumkan pada tetangga.”
Padma :
“Satu tahun? Ayah, ini semua hanya lelucon kan? Ayah…” (Ayah memalingkan
wajahnya dari Padma) “Ayah dulu bilang kalau ayah tak mau mencari pasangan
lagi, kenapa sekarang ayah mengingkari pernyataan ayah sendiri?”
Ayah :
“Padma, tolong mengerti. Ayah sudah sakit-sakitan, jantung ayah lemah, ayah
butuh seseorang untuk menjaga ayah.”
Padma :
“Apa aku tak cukup, ayah?”
Yuni :
“Padma,”
Padma :
“Diam kau!” (Padma mengacungkan telunjuk kanan ke wajah Yuni)
Ayah :
“Padma! Jangan kau bersikap kasar pada ibumu!”
Padma :
“Ibu? Ibu kata ayah? Dia bukan ibuku dan tak akan ada yang bisa menggantikan
ibu. Dia ibu tiri, ibu tiri akan tetap menjadi ibu tiri. Tak sayang padaku,
hanya melihat uang tabungan ayah, harta ayah, tak pernah seorang ibu tiri ingin
benar-benar menjaga ayah dan aku!” (nada Padma meninggi)
Plak… Ayah menampar pipi kiri Padma
hingga rambut Padma menutupi wajahnya.
Padma :
“Ayah jahat! Ayah pembohong! Ayah tak bisa memegang perkataan
sendiri!”
(sambil menuding ayahnya)
Ayah tersentak mendengar perkataan
Padma. Tangannya memegangi dada, perlahan tapi pasti Ayah tersungkur di lantai.
Padma tak kuasa menahan sakit hati dan berlari meninggalkan Ayah dan Yuni.
Ayah :
“Yuni, jangan kau kejar Padma. Biarkan dia menenangkan dirinya. Aku tak kuat
lagi menahan ini semua. Tolong kabari Padma jika napas terakhir telah
kuhembuskan.”
Sunyi. Senyap.
Yuni :
“Mas… mas…” Yuni panik. Panggung meredup. Gelap.
BABAK IV
Lampu merah
temaram menyinari panggung. Suasana memperlihatkan rasa marah, sedih dan kecewa
yang dialami oleh Padma. Ketika lampu itu menyala. Di tengah panggung Padma
telah terduduk putus asa. Rambut panjangnya terkuncir ekor kuda. Ia seharusnya
tampak anggun mengenakan rok panjang putih yang menutupi hingga lewat
lututnya. Badannya sedikit membungkuk. Perlahan, badannya mulai
terguncang. Ia terisak, awalnya kecil, namun akhirnya menggema di seluruh
ruangan. Tangisan yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
Padma : “Aku besar dan tumbuh tanpa kehadiran
seorang ibu, kini ayah yang paling kukasihi telah meninggalkanku sebatang kara
di dunia ini.” (badannya kembali
membungkuk dan terisak)
Yuni masuk
ke dalam panggung lalu berdiri di samping
Padma yang duduk membungkuk.
Yuni : “Apa kamu puas sekarang Padma? Kamu
tahu ayahmu memiliki jantung yang lemah. Apa kamu sengaja membuat ayahmu pergi?”
Padma : “Diam!” (Padma membuang muka)
Yuni : “Hey, bagaimana aku bisa diam. Lihat
ini!” (memperlihatkan
buku tabungan) “Tabungan ayahmu tidak dapat mencukupi hidup kita lebih dari 2
bulan lagi! Bagaimana aku bisa diam?” (dengan nada tinggi)
Padma : “Aku akan berhenti sekolah, puas? Tak
perlu biaya tambahan lagi untuk membayar biaya sekolah.”
Yuni : “Hahaha” (tertawa sinis) “Dasar anak kecil, kamu pikir hanya
dengan berhenti sekolah biaya hidup kita akan terjamin selamanya?”
Padma : “Lantas apa maumu?”
Yuni : “Kamu harus
bekerja!
Kau masih punya wajah dan tubuh yang masih bisa kau jual!”
Padma : “Aku tak sudi!”
Yuni : “Siapa yang menyebabkan ayahmu mati?
Kamu pelakunya! Sekarang kamu harus bertanggung jawab atas
perbuatanmu!
Sekarang kau ada di bawah kuasaku.” (Padma merasa
bersalah dan menundukkan wajahnya)
Yuni masuk ke belakang panggung sambil
menarik lengan kanan Padma yang tanpa perlawanan.
BABAK V
Padma kembali terduduk di bangku taman
berwarna hijau muda. Dalam pikiran Padma terngiang distorsi ajakan Yuni yang
menusuk sangat dalam di hatinya. Padma merenung.
Padma :
(diam sejenak) “Hmm… mengapa hidupku seperti
ini?”
Senar gitar berdenting dari sisi
panggung. Bagus berjalan dengan gitar di tangannya, ia kemudian menyadari
keberadaan Padma lalu menghampiri Padma.
Bagus :
“Padma, kita bertemu lagi!” (memasang wajah gembira) “Mengapa wajahmu semurung ini? Padma yang dulu kukenal tidak
seperti ini.”
Padma :
(menoleh ke arah Bagus) “Eh Bagus, maaf. Aku sedang memiliki masalah. Apa yang
kamu lakukan di sini? Senang bertemu lagi.” (Padma memasang wajah masam)
Bagus :
“Aku begitu mengenal senyum itu. Sesuatu yang buruk pasti sudah terjadi padamu.”
Padma :
(tersenyum simpul) “Hmmm…”
Bagus :
“Maka, sudah kewajibanmu untuk bercerita padaku Padma.” (duduk
mendampingi Padma)
Panggung meremang. Padma dan Bagus
bertatap mata.
(Padma bercerita. Menceritakan kisah
hidupnya yang dulu terlewat oleh Bagus. Bagus mendengarkan, dunia juga mencuri
dengar kehidupan Padma. Hingga akhirnya matahari tergelincir.)
Panggung sedikit terang. Padma
menundukkan kepala sementara Bagus menepuk pundaknya. Padma menyeka air
matanya.
Bagus :
“Hmm… (menepuk bahu Padma dengan lembut lalu
menyeka air mata di pipi Padma) Sudahlah, tidak apa-apa. Kamu perempuan yang sangat hebat dan baik. Jangan menjadikan dirimu sebagai satu-satunya orang yang patut disalahkan.
Jangan bersedih dan jangan pernah berpikir untuk
menyerah,
aku masih bersedia menerima semua keluh kesahmu. Padma,
hari
sudah gelap tak akan sopan bila aku di sini lebih lama lagi.”
Padma :
“Terima kasih Bagus, hati-hati di jalan.”
Bagus keluar dari panggung.
Setelah
bagus berlalu, Padma kembali termenung seorang diri.
Padma :
“Ya Tuhan tolonglah aku. Aku benar-benar tidak bisa memilih. Ini sama seperti
buah simalakama.”
Yuni masuk dari belakang panggung.
Yuni :
“Kamu tidak usah memilih. Kamu hanya bisa menjalankan tugasmu. Pergi, dan ambil
pakaian tarimu. Takdirmu memang menjadi penari malam untuk membiayai hidup
kita. Tidak yang lain.”
Padma :
(terisak) “Maafkan aku, Tuhan tolonglah aku.” (tertunduk
dan berpikir keras) “Mungkin memang tidak ada jalan lain. Maaf ayah, maaf
Bagus, maaf semua. Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menerimanya. (sambil
pura-pura kuat dan menyeka air mata sendiri) Walau diriku rusak, yang penting
aku masih bisa hidup. Tujuanku hanyalah untuk hidup.”
BABAK VII
Gamelan mulai mendentang. Penari mulai
menunjukkan tariannya di atas panggung. Sugi memasuki panggung dan menari
bersama salah satu penari. Tak lupa Sugi memberikan saweran pada penari itu dan
akhirnya Sugi digiring duduk di salah satu kursi untuk menikmati pertunjukan. Surya
kemudian muncul di panggung dengan gaya yang sama dengan Sugi, pebisnis yang
lelah akan dunianya. Surya memilih satu penari dan menari hingga lelah bersama
penari itu. Surya akhirnya duduk di kursi yang bersebrangan dengan Sugi.
Lampu masih redup dan siluet dinyalakan.
Padma menari di balik siluet hingga Sugi dan Surya terdiam memandangnya. Siluet terbuka dan Padma
menari di atas panggung, di hadapan semua orang di atas panggung. Sugi dan
Surya tak henti-hentinya memperhatikan Padma dari atas hingga bawah. Padma masih
menikmati tariannya. Padma terpejam menghadapi dirinya terbuai tarian dan irama
gamelan yang masih juga belum usai diperdengarkan. Padma akhirnya berhenti.
Gamelan juga berhenti. Dua laki-laki itu tak lagi bergeming, mereka bergerak mendekati
Padma yang mulai dihinggapi rasa was-was.
Sugi :
“Hai gadis manis tarianmu sangat memukau orang-orang yang
menontonmu.” (tampang mesum)
Padma : “Terima kasih.” (dengan wajah takut)
Penari-penari lain meninggalkan panggung
dari sisi kanan dan kiri.
Surya : “Jangan takut gadis manis, kamu hanya
perlu menemani kami malam ini.”
Padma :
“Maaf, tapi saya masih harus menari.” (pasang muka malu-malu)
Sugi :
“Menarilah bersama kami,” (mengamit tangan Padma, membawanya sedikit lebih ke
depan panggung) “tenang saja, kami punya cukup uang untukmu. Kau tak usah
khawatir gadis manis.”
Surya :
“Betul, jika kau anggap uang darinya masih belum cukup untukmu aku juga punya
uang lebih dari cukup untuk mengganti jerih payahmu.”
Padma :
“Tapi…”
Surya :
“Kenapa lagi cantik?”
Padma :
“Tapi saya tidak bisa menemani kalian berdua, saya masih harus menari lagi.”
Sugi :
“Tenang saja, aku mengenal siapa yang punya tempat ini. Dia tak akan memarahimu
jika kau tak menari karena kami pinjam.” (Semakin memaksa)
Padma :
“Terima kasih, tapi saya tak bisa menemani Bapak.”
Surya :
“Kenapa? Apa kamu pikir uang yang kami punya tidak cukup? Aku bisa memberikanmu
rumah, kami bisa membelikanmu Lamborgini kalau kau mau.”
Padma :
“Sekali lagi terima kasih. Tapi hasil kerja saya dari menari sudah cukup. Saya
tak bisa menemani Bapak.”
Sugi :
“Kau ini, zaman sekarang masih saja jadi wanita sok suci. Ayolah, kau harus
menemani kami malam ini.”
Padma : “Jangaaaan…”
Padma bergerak ingin menghindar tapi Sugi dan Surya telah memegang kedua tangan Padma lalu membawa Padma
ke belakang siluet.
Dua laki-laki itu menguasai Padma sepenuhnya. Siluet menutup. Adegan
pemerkosaan tergambar lewat siluet yang kian jelas ditemani suara tawa Sugi dan
Surya serta tangisan Padma. Padma berlari ke luar siluet dan jatuh tersungkur
di atas panggung. Surya dan Sugi keluar satu persatu dalam keadaan yang tak
lagi rapi.
Surya :
“Kau tak bisa kemana-mana gadis manis.”
Sugi :
“Ayo kita seret saja dia!”
Padma :
“Jangaaaaaan…”
Padma hanya bisa berteriak sementara ia
tak bisa melawan dua laki-laki yang menyeretnya ke belakang siluet. Adegan
pemerkosaan diulang lagi dengan lebih gereget dan durasi yang lebih lama.
Perlahan lampu mati.
Lampu dihidupkan. Padma bersimpuh di
atas panggung dengan pakaian tak lagi rapi.
Padma : “Tuhan, cobaan apa lagi yang kini kau
berikan padaku? Adakah kesalahan besar yang pernah
kuperbuat hingga kini kau menghukumku seperti ini? Tuhan… jawab semua doaku!”
Surya dan Sugi keluar dari siluet dengan
pakaian yang juga tak rapi.
Sugi :
“Ternyata kau boleh juga.” (tersenyum puas)
Mereka kemudian melemparkan gepokan uang
ke arah Padma.
Surya :
“Terima kasih cantik.” (mendekatkan wajahnya ke wajah Padma)
Padma terisak, berteriak kencang dan
lampu meredup. Gelap.
BABAK VII
Padma menyandarkan kepalanya di bangku
hijau di taman belakang rumahnya. Pakaiannya telah berganti dan wajahnya
menekuk sedih. Padma menangis. Isakannya mengundang Yuni keluar rumah,
menghampiri Padma yang tak lagi rapi.
Yuni :
“Mana hasil kerjamu kemarin malam?”
Padma menyerahkan segepok uang yang ia
dapat pada Yuni tanpa menatap wajah Yuni.
Yuni :
“Bagus juga hasilnya, ternyata kamu memang bisa diandalkan. Berarti nanti malam
kamu harus kembali menari karena uang ini tak akan bertahan hingga seminggu ke
depan.”
Padma menatap marah pada Padma, kemudian
kembali mengarahkan pandangannya pada bangku hijau. Yuni mengangkat dagu Padma
hingga mata keduanya ada pada satu garis lurus.
Yuni :
“Buat ayahmu bangga, buat dirimu senang, dan buat aku bahagia. Menarilah, maka
kebutuhanmu akan terpenuhi dan ayahmu tak akan marah padamu.”
Yuni berlalu, masuk kembali ke belakang
panggung. Padma terisak. Lampu padam.
BABAK VIII
Padma masuk ke panggung dalam keadaan
lelah, pakaiannya tak lagi rapi. Padma tertawa kecil sambil menggerak-gerakkan
tangannya mengikuti gerakan tari yang biasa ia tarikan. Padma yang lelah
bersandar di bangku taman berwarna hijau. Padma terduduk dan mengumpulkan
tenaga. Napasnya tersengal kemudian emosinya mulai bertemu seiring tangisnya.
Padma : “Ayah, ayah
dimana sekarang? Aku sangat merindukanmu ayah. Tidak, tidak merindukanmu, tapi
aku ingin membuat perhitungan denganmu ayah. Tidakkah kau sadar, ibu tiri itu
telah membawa ayah ke tempat yang jauh,
jauh sekali dariku ayah. Dialah yang membuat jantung ayah berhenti berdetak di
kala itu. Harusnya
ayah tahu itu.”
(menangis dan berdiri pelan-pelan) “Ayah, anak yang kau bangga-banggakan ini harus menari tiap malam untuk mencukupi
biaya hidup. Apakah
kau tahu ayah, orang yang ayah katakan bisa menjadi ibuku hanya tampak manis di
depanmu ayah. Kenapa ayah tidak menyadari itu dari dulu?” (mengambil setangkai ranting pohon di tanah)
Padma mematahakan ranting kering yang ia
dapatkan. Ranting itu Padma patahkan dan ia lempar sesukanya. Patahan ranting
itu mengenai Bima yang sedang melewati tempat Padma menangis. Padma masih sibuk
dengan tangisnya.
Bima : “Aduh! (mengambil ranting dan menoleh ke arah Padma) Siapa yang
berani-beraninya melakukan hal ini padaku, malam-malam seperti ini sudah mau
membuat gara-gara denganku, apa dia tidak tahu tanganku
ini sudah pernah membuat beberapa orang di kampungku terkirim ke rumah sakit?”
Bima menghampiri Padma. Bima bertatapan langsung dengan Padma,
rasa kesalnya seketika menghilang.
Bima : (dengan
nada pelan) “Oh.. ternyata hanya seorang gadis, dan... dia tampaknya
terlihat sedih.”
(berusaha menyembunyikan ranting yang dibawanya tadi di
belakang tubuhnya) “Maaf, di sini cuacanya
dingin, bukankah sebaiknya kamu masuk ke dalam. Lihatlah baju yang kamu kenakan, sepertinya tidak cukup untuk
menahan dingin.”
Padma : (menangis) “Kamu siapa? Berani-beraninya menasihatiku. Kau juga
menantang dingin.” (dengan nada tersedu-sedu)
Bima : “Aku Bima, maafkan aku, maksudku tadi hanya saran. (terdiam sebentar) Emm..
kalau boleh aku tahu, namamu siapa dan kenapa saat malam seperti ini kamu
bersedih di
sini, di cuaca yang dingin seperti ini?”
Padma : (dengan
wajah yang tersiram air mata) “Aku Padma dan
kenapa aku
harus bercerita kepadamu?”
Bima : ”Oh… jadi Padma. (terdiam sejenak) Sungguh Padma aku sangat tidak tega melihat
seorang gadis
sepertimu menangis di tengah malam yang dingin ini, dan dengan pakaian yang terlihat seperti ini aku pikir ada sesuatu hal yang menimpamu tadi. Ya aku bukanlah
seorang peramal, tapi perasaanku menyatakan hal seperti itu. Aku juga mengerti
ketika masalah menimpaku aku pasti terpukul, dan rasa terpukul ini biasanya
hilang ketika masalah yang menimpaku didengarkan oleh orang lain.”
Padma : (ragu-ragu) “Aku… aku bukan orang yang pantas kamu kenal. Hidupku
sekarang ini hanya untuk ibu tiri, hidupku, dan pekerjaanku. Tuhan seperti telah menetapkan tinta
penanya di jalan hidupku yang seperti ini. Aku tidak bisa mengelak lagi Bima,
tidak, tidak Bima!”
Bima : “Padma, aku paham perasaanmu, aku mengerti kepiluan itu sangat sulit
diceritakan Padma, tetapi, kehidupan itu memang begini. Beginilah jalan Tuhan untuk mengajari kita dan mengubah hidup kita Padma.”
Padma : (wajah jutek) “Perkataanmu itu, haha… (tertawa meremehkan) perkataanmu
itu, seolah-olah kamu merasakan apa yang aku rasakan. (nada marah dan
menunjuk-nunjuk wajah Bima) Kamu… kamu tidak
pernah mengerti sakitnya dikhianati oleh ayah,
pedihnya mempunyai ibu tiri, kamu… kamu tidak mengerti pilunya menjadi penari
malam, yang mesti memenuhi hasrat para bajingan itu!”
Padma
memegang pundak Bima dan mengguncangnya.
Padma berhenti dan kembali menangis sementara tangannya masih di pundak Bima.
Bima : “Sudahlah… sudah… (Bima mencoba melepaskan genggaman tangan
Padma di pundaknya, dengan sangat halus. Bima meraih pundak Padma) Aku mengerti
betul perasaanmu Padma. Aku mengerti betul jejak-jejak perjalananmu. Sudahlah…
sudah… Cuaca malam ini semakin dingin Padma, sebaiknya kuantarkan kamu masuk.”
Padma mulai
menghentikan tangisannya, dia sudah merasa tenang. Padma hanya bisa mengangguk pelan mendengar ajakan Bima. Bima menggiring Padma mendekati belakang panggung.
Padma : “Terima kasih… telah menenangkanku Bima. (datar dan halus)”
Padma ke belakang
panggung meninggalkan Bima sendiri.
Bima : “Tidak apa Padma, besok aku akan menemuimu lagi di sini. (melihat Padma meninggalkan
panggung, menghela napas) Aku yakin dia gadis yang baik.
Entah kenapa hati ini bergetar kuat. Padma, tak peduli
apapun yang kau lakukan, hati ini akan selalu ada untuk menghangatkanmu, sehingga malam tak akan bisa mengirimkan dingin padamu. Aku berjanji Padma, aku akan selalu ada untukmu.”
Bima meninggalkan panggung dan lampu
meredup.
BABAK X
Lampu
panggung bersinar, pagi itu burung-burung sedang asiknya berkicau (terdengar
cicit burung). Bima berdiri di taman belakang
rumah Padma dengan
pakaian rapi.
Bima : “Sungguh malang nasib Padma. Dia pasti sangat membutuhkan seseorang di
sampingnya saat ini.”
Bagus masuk ke panggung sambil berlari
kecil (lagi olah raga) dari arah belakang Bima. Bagus menepuk pundak Bima. Bima
sedikit terkejut.
Bagus : “Bima…” Bima menoleh
ke arah Bagus sambil mulai mengingat-ingat. “Bima…” Bagus mendekati Bima.
Bima :
“Bagus… ternyata kamu Bagus, kamu mengejutkanku saja.”
Bagus :
“Bima, tak kusangka bisa bertemu denganmu di sini.”
Bima dan Bagus melakukan tos hingga
Bagus jatuh tersungkur. Bima tertawa kecil memandang Bagus yang mengelus-elus
tangannya yang membentur tanah. Bima kemudian membantu Bagus berdiri.
Bagus :
“Kau masih saja kuat seperti dulu.”
Bima : “Tentu.
(memandangi Bagus sejenak) Wah… wah… sekarang
kamu mulai sering berolah raga ya? Sudah ku bilang, jika saja dari dulu kau seperti ini badanmu tentu seperti badanku sekarang.” (sambil membanggakan badannya)
Bagus : “Ayolah Bima, aku tahu… emm… tunggu
dulu, kenapa kamu bisa ada di sini?”
Bima : “Aku sedang menunggu seseorang.”
Bagus : “Wah kita
benar-benar mempunyai tujuan yang sama. Memang dari sejak lulus SD kita memang
selalu melakukan hal yang sama.”
Bima : “Oh… jadi sekarang kamu sudah punya pacar.”
Bagus : “Bukan, bukan. Memang aku menyukainya, tapi saat sampai saat ini dia belum
meresponku. Tunggu sebentar, kamu juga sedang menunggu seseorang benar,
memangnya siapa orang itu?”
Bima : “Dia gadis yang baik dan juga periang. Ya… aku yakin itu, dari matanya
sangat terlihat jelas. Aku menyukainya. Saat ini dia
memang benar-benar membutuhkan seseorang di sisinya. Aku mengerti gadis ini,
pilunya, kesedihannya, kekecewaannya, dan juga pekerjaannya. Ya karena aku sempat terperangkap dalam
dunianya dan itu dulu.”
Bagus : “Gadis itu memang sangat memerlukanmu Bima. Sedikit sama
dengan seseorang yang kusukai. Dia itu gadis yang berbakat. Kami sama-sama
menyukai seni. Dia sangat pintar menari, semua orang telah mengakui hal ini
begitupun diriku. Walaupun tariannya saat ini telah berbelok dari apa yang ia
cita-citakan dulu dan dia tenggelam dalam keterpurukan.”
Bima : “Aku mendukungmu bagus, kamu pintar bermain gamelan dan dia pintar menari.
Kalian memang pasangan yang cocok. Gadis yang kusukai ini juga penari,
senyumnya manis.”
Bima dan Bagus tertawa bersama dan
tiba-tiba terhenti.
Bima dan
Bagus : “Tunggu
dulu, jangan-jangan?”
Panggung gelap.
BABAK XI
Dan akhirnya, aku telah sampai di sini. Hidup
hingga kurun waktu jauh tak ayal juga membuahkan. Ketika sang kunang-kunang
menyongsong pagi, ketika itulah aku saat ini. Kulit ini, tangan ini, kaki ini,
rambut ini, tubuh ini. Milikku? Bukan! Milik pemabuk, milik hidung belang, bahkan
milik pamanmu yang menyuguhi lembaran mawar. Sekarang kau akan berkata aku
jahanam, aku biadab, aku laknat. Bukan? Sayang sekali, kau benar. Tapi tak ada
bagian diriku yang menginginkan aku jadi seperti ini. Aku memang suka menari,
tapi bukan menari untuk kepuasan birahi mereka yang aku ingini. Aku ingin
menari karena hatiku yang meliuk oleh gamelan. Aku ingin menari karena Bagus
yang mengiringi. Aku tak ingin menari hanya untuk nafsu duniawi.
Bagus, si pangeran pagi menyuguhiku
dengan cerita duniawi bersajak seni. Senang aku bersamanya, indah rasa dunia di
sisinya. Kental nada seni mengalir bersama lembut liukan tari yang kulakoni.
Aku selalu merindukan masa-masa itu, masa indah bersama Bagus. Malam itu,
kupikir Bagus akan mengerti. Kupikir dia mau memahami, aku menari karena
dituntut. Salahku menaruh harap terlalu jauh darinya. Tidak, bukan aku yang
patut disalahkan. Aku hanya mengikuti arus, terhempas ombak dunia. Aku menari
menemani mereka bukan karena aku suka, tapi karena aku dituntut. Sayang, Bagus
masih belum mau memahami. Tapi hatiku juga tak bisa dibohongi, aku ingin menari
dalam drama dunia bersama Bagus.
Pernah kucoba berhenti, tapi ternyata
ada yang menghalangi. Hidupku ternyata sepenuhnya bergantung pada apa yang
telah kujalani. Dunia malam yang telah mengayomiku tahun demi tahun. Dunia
malam, yang mempertemukan aku dengan Bima. Bima, si master malam memberiku
ketenangan di sela iblis keluar dan menguasai diri. Bima, memberi perhatian,
mencurahkan pengertian, mengaliri pemahaman. Air mataku terseka meski sesak di
dalam dada ini belum bisa disembuhkan. Aku tahu mereka berdua merindu hati ini
(sambil memegang dada). Tapi sayang, bertahun-tahu lalu hati ini telah membatu.
Banyak yang mencaci, tapi aku tak peduli.
Tak ada salah dengan persepsi, dengan asumsi. Tapi mereka dengan lantang
menyalahkanku hanya karena mereka tidak pernah ada di posisiku. Aku merindukan
pagi, pagi yang membawa Bagus menemui aku dalam senyumnya. Pagi yang menyirami
hatiku dengan hangat mentari, bukan dengan terkaman ibu tiri. Aku membenci
malam, malam yang harus kulewati bersama orang-orang yang sesungguhnya lebih
jahaman dari bajingan. Malam yang membawa Bima untuk menyeka tangisku dan
memaksaku sejenak melupakan Bagus.
Tidak ada yang mengerti. Tidak ada yang
membantuku menentukan dimana langkah harus menapak. Tak ada yang bisa kuubah.
Tak ada yang bisa mengubah. Entah Bima, entah Bagus (melihat jam di panggung). Sepertinya
waktu telah memanggil. Aku harus pergi, aku masih ingin bertahan hidup, walau
harus sebagai kunang-kunang pagi.
Panggung gelap, pertunjukan berakhir.