Pembaca Setia

Jumat, 12 Oktober 2012

Semua Berawal dari Infrastruktur


Semua Berawal dari Infrastruktur
I Gusti Agung Ray Padmayoni Dewantari
XI Science 2
SMA N Bali Mandara (Sampoerna Academy)

Semakin hari semakin banyak berita bermunculan tentang rendahnya kualitas sekolah-sekolah di Indonesia. Mulai dari kebocoran atap, gedung yang sudah tua, hingga gedung sekolah yang roboh. Keadaan infrastruktur yang tidak mendukung proses belajar mengajar tentunya mempengaruhi hasil pembelajaran yang didapat siswa.

Infrastruktur sekolah adalah sarana pendukung dalam proses belajar mengajar selain adanya siswa dan guru. Ketiadaan infrastruktur yang memadai tentu mempengaruhi tingkah laku siswa. Siswa yang tidak memiliki akses yang cukup untuk menggali ilmu pengetahuan akan menghabiskan waktu istirahat mereka dengan hal-hal lain. Yang paling sering siswa SD lakukan adalah bermain-main dengan kawan-kawan sebaya mereka. Waktu istirahat yang mereka miliki harusnya mereka gunakan untuk mencari pengetahuan baru dari buku-buku di perpustakaan, namun itu tak bisa terwujud bila tidak ada perpustakaan di sekolah.

Masih mengenai keberadaan buku dan waktu untuk membaca, ruang kelas mestinya bisa menjadi alternatif untuk masalah ini. Ruang kelas bisa digunakan untuk menyimpan buku-buku yang digunakan dalam proses belajar mengajar di suatu kelas. Namun ketika kita lihat lebih jauh lagi masih banyak sekolah-sekolah yang menyelenggarakan proses belajar mengajar di bawah naungan terpal, bukan di bawah atap ruang kelas. Bila dihubungkan antara ketiadaan perpustakaan dan ruang kelas yang tidak layak untuk belajar serta menyimpan buku maka tidaklah heran jika minat baca untuk menambah pengetahuan tidak bisa didorong.

Selain dua hal di atas ada satu jenis infrastruktur tambahan yang juga mendukung proses pembelajaran. Alangkah baiknya bila sebuah sekolah, baik itu sekolah dasar, memiliki ruangan yang lumrahnya disebut sebagai laboratorium. Laboratorium yang dimaksud adalah ruangan khusus yang digunakan untuk tujuan khusus yang menyangkut subjek tertentu. Keberadaan laboratorium bisa menambah nilai kemungkinan siswa untuk mengembangkan kreatifitas mereka.

Laboratorium bisa saja laboratorium IPA atau laboratorium seni. Laboratorium yang dimaksud tidak mesti laboratorium yang canggih dengan peralatan yang serba mahal. Laboratorium yang dibutuhkan untuk siswa-siswi SD adalah tempat untuk mereka mencari tahu hal-hal baru. Mereka membutuhkan tempat untuk mengasah kreativitas serta mengekspresikan diri mereka pada hal-hal positif.

Tak sedikit tokoh-tokoh yang handal di bidangnya memulai secara otodidak. Ketika pembelajaran dimulai dari kesadaran diri dengan usaha yang juga muncul dari dalam diri akan membawa perkembangan yang lebih. Seperti kita ketahui, usia anak-anak memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, mereka bisa mencari tahu apa pun yang belum mereka ketahui. Kondisi seperti ini yang perlu ditanggapi dengan baik dan bisa difasilitasi dengan adanya laboratorium yang bisa mereka manfaatkan.

Penyediaan infrastruktur yang mendukung perkembangan siswa pada kondisi yang sesuai akan sangat berpengaruh dalam hasil yang dicapai. Secara singkatnya, infrastruktur juga mempengaruhi hasil belajar siswa. Bila kenyataannya masih ada begitu banyak sekolah-sekolah yang tidak memiliki infrastruktur yang memadai maka rangkaian pikiran dan tindakan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan. Pemerintah hendaknya menyisihkan anggaran untuk memperbaiki infrastruktur di sekolah-sekolah dengan keadaan kritis. Penyisihan anggaran harus dibarengi dengan pelaksanaan proyek-proyek pembenahan infrastruktur yang bertanggung jawab.

Pihak swasta juga diharapkan bisa berperan aktif dalam membantu pembenahan infrastruktur sekolah-sekolah tertinggal. Pihak swasta bisa menyalurkan langsung bantuannya pada instansi-instansi sekolah. Penyaluran bantuan ini harus disertai pertanggungjawaban dari semua pihak, baik dari pihak swasta sendiri serta pihak sekolah yang diberi bantuan. Diharapkan setelah sekolah-sekolah memiliki infrastruktur yang memadai akan semakin tinggi minat siswa untuk bersekolah serta semakin banyak anak bangsa yang menikmati pendidikan yang layak dan berkualitas.

Penunjang Pendidikan Perlu Diperbaiki


Penunjang Pendidikan Perlu Diperbaiki

I Gusti Agung Ray Padmayoni Dewantari
XI Science 2
SMA N Bali Mandara (Sampoerna Academy)

Canda tawa di tengah terik matahari menghiasi siang itu di  SD N 7 Kubutambahan. Kelakuan-kelakuan lucu siswa-siswi itu biasa ditemui di jam-jam istirahat pembelajaran. Mereka tidak punya pilihan lain untuk menghabiskan jam istirahat karena tidak ada sarana dan tempat untuk mengembangkan kreativitas.

Pemandangan yang disuguhkan di SD ini adalah gambaran sekolah yang sederhana. Sekolah ini memiliki enam ruang kelas dengan cat yang sudah usang. Kelas yang paling memprihatinkan adalah ruang kelas 1 dan 2. Selain catnya yang usang, sirkulasi udara juga tidak bagus. Di dalam ruangan hanya ada kursi dan meja belajar yang tertata tidak rapi dengan kondisi sudah dimakan usia, papan tulis hitam, serta meja guru. Tidak ada rak buku atau media-media pemebelajaran yang lain.

Di sebelah kelas, ada ruang guru yang kondisinya tidak jauh beda. Tak jauh dari kelas terdapat toilet yang tak layak pakai. Aroma tak sedap yang berasal dari toilet menyebar hingga ke kelas. Tentu ini sangat mengganggu kenyamanan belajar siswa, “Toiletnya gak enak dipakai, kalau kebelet pas jam pelajaran ya ditahan sampai istirahat biar bisa pakai toilet tetangga,” ungkap salah seorang siswa.

Ruangan yang paling memprihatinkan adalah perpustakaan sekolah. Ruangan ini sangat tidak layak disebut sebagai perpustakaan karena kondisinya yang lebih mirip gudang buku. Ruangan ini sempit, berdebu, penuh dengan sarang laba-laba yang sudah barang pasti tidak terurus. Tidak ada penerangan dari lampu, cahaya hanya bisa masuk dari celah sempit di atap. Di dalam perpustakaan tidak disediakan buku-buku yang layak baca, ruangan ini dipenuhi buku-buku usang serta barang-barang yang sudah rusak.

Pihak sekolah sesungguhnya telah mengajukan permintaan perbaikan kepada pemerintah, “Beberapa tahun yang lalu kami sudah mengajukan anggaran untuk perbaikan perpustakaan, awalnya pemerintah menjanjikan dalam hitungan bulan perbaikan akan berjalan tapi sampai sekarang itu belum terealisasi,” ungkap Kepala Sekolah SD N 7 Kubutambahan. Beliau juga menambahkan, “Kami dari pihak sekolah berterima kasih banyak seandainya ada pihak yang mau membantu memperbaiki perpustakaan itu sehingga bisa digunakan oleh siswa-siswi kami,”.

Kondisi inilah yang memaksa siswa SD N 7 Kubutambahan menghabiskan jam istirahat mereka dengan permainan anak-anak. Padahal, mereka menginginkan serta membutuhkan keberadaan perpustakaan yang lebih layak dengan bahan bacaan yang cukup, “Maunya sih punya tempat baca buku, apalagi kalau ada komik-komiknya,” ucap salah seorang siswa yang bermain di lapangan siang itu.

Dilihat dari segi keamanannya, sekolah ini belum bisa dikatakan memiliki keamanan yang bagus. Hal ini didukung dengan kenyataan mudahnya orang luar masuk ke lingkungan sekolah. Siang itu pula sekelompok remaja SMP memasuki lingkungan sekolah dengan mudah. Tak cukup sampai di sana, kedatangan orang luar memberi kesempatan siswa-siswi SD untuk melihat hal-hal yang kurang baik. Tak jarang mereka melihat kegiatan merokok yang dilakukan orang luar, hal ini tentunya membawa dampak pada mereka ke depannya.

Kondisi SD N 7 Kubutambahan adalah satu gambaran sekolah dengan infrastruktur yang kurang memadai. Demi mencapai kualitas yang bagus pemerintah mestinya memberi perhatian dan penanganan yang serius terhadap masalah ini. Dari sekian banyak infrastruktur yang harus mendapat perhatian lebih adalah perpustakaan. Dengan perpustakaan siswa bisa mendapat informasi serta ilmu pengetahuan baru. Dengan adanya perpustakaan, siswa bisa mengembangkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki tanpa tergantung dengan adanya guru atau hanya mengandalkan proses belajar mengajar di kelas.

Untuk mengoptimalkan peran perpustakaan, harus ada pengelolaan yang baik. Pengelolaan perpustakaan yang baik dapat meningkatkan kenyamanan perpustakaan sehingga minat siswa ke perpustakaan semakin meningkat. Peningkatan itu bisa mewujudkan tujuan pemerintah untuk meningkatkan minat baca dan kreativitas anak didik. Hal ini akan bermuara pada tercapainya cita-cita Indonesia “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Minggu, 07 Oktober 2012

Cerita Seorang Paskibra

17 Agustus lalu aku berkesempatan bergabung jadi pengibar bendera pusaka. Meskipun mengibarkannya gak di istana presiden, tapi di taman kota Singaraja juga gak jelek-jelek banget. Menjadi seorang paskibra sebenarnya cita-citaku sejak kecil, entah karena melihat pakaiannya yang serba gagah dengan warna putih, atau karena potongan rambutnya yang  unik, aku melihat paskibra itu sebagai sesuatu yang wah.

Sesuatu yang selalu membuat aku berpikir dua kali akan kesempatan yang bisa kuraih untuk mengibarkan bendera di istana negara semakin jauh aja. Kira-kira tahu alasannya kenapa? Itu semua masalah tinggi badan yang belu mencukupi. Tinggi badan yang diminta untuk paskibra putri adalah 165 cm atau lebih, sayangnya tinggi badanku hanya mencapai 162. Satu alasan lagi yang bikin aku belum bisa mencapai cita-cita mengibarkan bendera di istana negara adalah usia. Sungguh hal yang gak bisa dihindari, tahun depan aku menginjak umur 17, berarti naik ke kalas tiga SMA, itu berarti kesempatan itu memudar karena alasan UN.

Tapi buat siapa pun yang baca post ini, satu hal yang harus ada di benak kita semua. Sebuah keingingan sedikit kemungkinan akan terwujud ketika tidak ada bagian dari diri kita yang mau mewujudkannya. Simple memang, tapi semua itu sangant membutuhkan usaha dan keyakinan yang teguh pula. Jadi kesimpulannya adalah, jangan pernah menyerah untuk meraih mimpi sekecil apa pun! :)

Cerita kali ini kurasa cukup untuk memulai blog CeritaKu.com berjalan. Selamat menikmati cerita-cerita yang akan tersedia secara gratis di blog ini. Semangat Pemuda Indonesia!!