Semua Berawal dari
Infrastruktur
I Gusti Agung Ray Padmayoni Dewantari
XI Science 2
Semakin hari semakin banyak berita bermunculan tentang rendahnya kualitas sekolah-sekolah
di Indonesia. Mulai dari kebocoran atap, gedung yang sudah tua, hingga gedung
sekolah yang roboh. Keadaan infrastruktur yang tidak mendukung proses belajar
mengajar tentunya mempengaruhi hasil pembelajaran yang didapat siswa.
Infrastruktur sekolah adalah sarana pendukung dalam proses belajar mengajar
selain adanya siswa dan guru. Ketiadaan infrastruktur yang memadai tentu
mempengaruhi tingkah laku siswa. Siswa yang tidak memiliki akses yang cukup
untuk menggali ilmu pengetahuan akan menghabiskan waktu istirahat mereka dengan
hal-hal lain. Yang paling sering siswa SD lakukan adalah bermain-main dengan
kawan-kawan sebaya mereka. Waktu istirahat yang mereka miliki harusnya mereka
gunakan untuk mencari pengetahuan baru dari buku-buku di perpustakaan, namun
itu tak bisa terwujud bila tidak ada perpustakaan di sekolah.
Masih mengenai keberadaan buku dan waktu untuk membaca, ruang kelas
mestinya bisa menjadi alternatif untuk masalah ini. Ruang kelas bisa digunakan
untuk menyimpan buku-buku yang digunakan dalam proses belajar mengajar di suatu
kelas. Namun ketika kita lihat lebih jauh lagi masih banyak sekolah-sekolah
yang menyelenggarakan proses belajar mengajar di bawah naungan terpal, bukan di
bawah atap ruang kelas. Bila dihubungkan antara ketiadaan perpustakaan dan
ruang kelas yang tidak layak untuk belajar serta menyimpan buku maka tidaklah
heran jika minat baca untuk menambah pengetahuan tidak bisa didorong.
Selain dua hal di atas ada satu jenis infrastruktur tambahan yang juga
mendukung proses pembelajaran. Alangkah baiknya bila sebuah sekolah, baik itu
sekolah dasar, memiliki ruangan yang lumrahnya disebut sebagai laboratorium.
Laboratorium yang dimaksud adalah ruangan khusus yang digunakan untuk tujuan
khusus yang menyangkut subjek tertentu. Keberadaan laboratorium bisa menambah
nilai kemungkinan siswa untuk mengembangkan kreatifitas mereka.
Laboratorium bisa saja laboratorium IPA atau laboratorium seni.
Laboratorium yang dimaksud tidak mesti laboratorium yang canggih dengan
peralatan yang serba mahal. Laboratorium yang dibutuhkan untuk siswa-siswi SD
adalah tempat untuk mereka mencari tahu hal-hal baru. Mereka membutuhkan tempat
untuk mengasah kreativitas serta mengekspresikan diri mereka pada hal-hal
positif.
Tak sedikit tokoh-tokoh yang handal di bidangnya memulai secara otodidak.
Ketika pembelajaran dimulai dari kesadaran diri dengan usaha yang juga muncul
dari dalam diri akan membawa perkembangan yang lebih. Seperti kita ketahui,
usia anak-anak memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, mereka bisa mencari
tahu apa pun yang belum mereka ketahui. Kondisi seperti ini yang perlu
ditanggapi dengan baik dan bisa difasilitasi dengan adanya laboratorium yang
bisa mereka manfaatkan.
Penyediaan infrastruktur yang mendukung perkembangan siswa pada kondisi
yang sesuai akan sangat berpengaruh dalam hasil yang dicapai. Secara
singkatnya, infrastruktur juga mempengaruhi hasil belajar siswa. Bila
kenyataannya masih ada begitu banyak sekolah-sekolah yang tidak memiliki
infrastruktur yang memadai maka rangkaian pikiran dan tindakan dari berbagai
pihak sangat dibutuhkan. Pemerintah hendaknya menyisihkan anggaran untuk
memperbaiki infrastruktur di sekolah-sekolah dengan keadaan kritis. Penyisihan
anggaran harus dibarengi dengan pelaksanaan proyek-proyek pembenahan
infrastruktur yang bertanggung jawab.
Pihak swasta juga diharapkan bisa berperan aktif dalam membantu pembenahan
infrastruktur sekolah-sekolah tertinggal. Pihak swasta bisa menyalurkan
langsung bantuannya pada instansi-instansi sekolah. Penyaluran bantuan ini
harus disertai pertanggungjawaban dari semua pihak, baik dari pihak swasta
sendiri serta pihak sekolah yang diberi bantuan. Diharapkan setelah
sekolah-sekolah memiliki infrastruktur yang memadai akan semakin tinggi minat
siswa untuk bersekolah serta semakin banyak anak bangsa yang menikmati
pendidikan yang layak dan berkualitas.


