Penunjang Pendidikan Perlu
Diperbaiki
I Gusti Agung Ray Padmayoni Dewantari
XI Science 2
SMA N Bali Mandara (Sampoerna
Academy)
Canda tawa di tengah terik matahari menghiasi siang itu di SD N 7 Kubutambahan. Kelakuan-kelakuan lucu
siswa-siswi itu biasa ditemui di jam-jam istirahat pembelajaran. Mereka tidak
punya pilihan lain untuk menghabiskan jam istirahat karena tidak ada sarana dan
tempat untuk mengembangkan kreativitas.
Pemandangan yang disuguhkan di SD ini adalah gambaran sekolah yang sederhana.
Sekolah ini memiliki enam ruang kelas dengan cat yang sudah usang. Kelas yang
paling memprihatinkan adalah ruang kelas 1 dan 2. Selain catnya yang usang,
sirkulasi udara juga tidak bagus. Di dalam ruangan hanya ada kursi dan meja
belajar yang tertata tidak rapi dengan kondisi sudah dimakan usia, papan tulis
hitam, serta meja guru. Tidak ada rak buku atau media-media pemebelajaran yang
lain.
Di sebelah kelas, ada ruang guru yang kondisinya tidak jauh beda. Tak jauh
dari kelas terdapat toilet yang tak layak pakai. Aroma tak sedap yang berasal
dari toilet menyebar hingga ke kelas. Tentu ini sangat mengganggu kenyamanan
belajar siswa, “Toiletnya gak enak dipakai, kalau kebelet pas jam pelajaran ya
ditahan sampai istirahat biar bisa pakai toilet tetangga,” ungkap salah seorang
siswa.
Ruangan yang paling memprihatinkan adalah perpustakaan sekolah. Ruangan ini
sangat tidak layak disebut sebagai perpustakaan karena kondisinya yang lebih
mirip gudang buku. Ruangan ini sempit, berdebu, penuh dengan sarang laba-laba
yang sudah barang pasti tidak terurus. Tidak ada penerangan dari lampu, cahaya
hanya bisa masuk dari celah sempit di atap. Di dalam perpustakaan tidak
disediakan buku-buku yang layak baca, ruangan ini dipenuhi buku-buku usang
serta barang-barang yang sudah rusak.
Pihak sekolah sesungguhnya telah mengajukan permintaan perbaikan kepada
pemerintah, “Beberapa tahun yang lalu kami sudah mengajukan anggaran untuk
perbaikan perpustakaan, awalnya pemerintah menjanjikan dalam hitungan bulan
perbaikan akan berjalan tapi sampai sekarang itu belum terealisasi,” ungkap
Kepala Sekolah SD N 7 Kubutambahan. Beliau juga menambahkan, “Kami dari pihak
sekolah berterima kasih banyak seandainya ada pihak yang mau membantu
memperbaiki perpustakaan itu sehingga bisa digunakan oleh siswa-siswi kami,”.
Kondisi inilah yang memaksa siswa SD N 7 Kubutambahan menghabiskan jam
istirahat mereka dengan permainan anak-anak. Padahal, mereka menginginkan serta
membutuhkan keberadaan perpustakaan yang lebih layak dengan bahan bacaan yang
cukup, “Maunya sih punya tempat baca buku, apalagi kalau ada komik-komiknya,”
ucap salah seorang siswa yang bermain di lapangan siang itu.
Dilihat dari segi keamanannya, sekolah ini belum bisa dikatakan memiliki
keamanan yang bagus. Hal ini didukung dengan kenyataan mudahnya orang luar
masuk ke lingkungan sekolah. Siang itu pula sekelompok remaja SMP memasuki
lingkungan sekolah dengan mudah. Tak cukup sampai di sana, kedatangan orang
luar memberi kesempatan siswa-siswi SD untuk melihat hal-hal yang kurang baik. Tak
jarang mereka melihat kegiatan merokok yang dilakukan orang luar, hal ini
tentunya membawa dampak pada mereka ke depannya.
Kondisi SD N 7 Kubutambahan adalah satu gambaran sekolah dengan
infrastruktur yang kurang memadai. Demi mencapai kualitas yang bagus pemerintah
mestinya memberi perhatian dan penanganan yang serius terhadap masalah ini.
Dari sekian banyak infrastruktur yang harus mendapat perhatian lebih adalah
perpustakaan. Dengan perpustakaan siswa bisa mendapat informasi serta ilmu
pengetahuan baru. Dengan adanya perpustakaan, siswa bisa mengembangkan ilmu
pengetahuan yang mereka miliki tanpa tergantung dengan adanya guru atau hanya
mengandalkan proses belajar mengajar di kelas.
Untuk mengoptimalkan peran perpustakaan, harus ada pengelolaan yang baik.
Pengelolaan perpustakaan yang baik dapat meningkatkan kenyamanan perpustakaan
sehingga minat siswa ke perpustakaan semakin meningkat. Peningkatan itu bisa
mewujudkan tujuan pemerintah untuk meningkatkan minat baca dan kreativitas anak
didik. Hal ini akan bermuara pada tercapainya cita-cita Indonesia “mencerdaskan
kehidupan bangsa”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar