Pembaca Setia

Jumat, 12 Oktober 2012

Penunjang Pendidikan Perlu Diperbaiki


Penunjang Pendidikan Perlu Diperbaiki

I Gusti Agung Ray Padmayoni Dewantari
XI Science 2
SMA N Bali Mandara (Sampoerna Academy)

Canda tawa di tengah terik matahari menghiasi siang itu di  SD N 7 Kubutambahan. Kelakuan-kelakuan lucu siswa-siswi itu biasa ditemui di jam-jam istirahat pembelajaran. Mereka tidak punya pilihan lain untuk menghabiskan jam istirahat karena tidak ada sarana dan tempat untuk mengembangkan kreativitas.

Pemandangan yang disuguhkan di SD ini adalah gambaran sekolah yang sederhana. Sekolah ini memiliki enam ruang kelas dengan cat yang sudah usang. Kelas yang paling memprihatinkan adalah ruang kelas 1 dan 2. Selain catnya yang usang, sirkulasi udara juga tidak bagus. Di dalam ruangan hanya ada kursi dan meja belajar yang tertata tidak rapi dengan kondisi sudah dimakan usia, papan tulis hitam, serta meja guru. Tidak ada rak buku atau media-media pemebelajaran yang lain.

Di sebelah kelas, ada ruang guru yang kondisinya tidak jauh beda. Tak jauh dari kelas terdapat toilet yang tak layak pakai. Aroma tak sedap yang berasal dari toilet menyebar hingga ke kelas. Tentu ini sangat mengganggu kenyamanan belajar siswa, “Toiletnya gak enak dipakai, kalau kebelet pas jam pelajaran ya ditahan sampai istirahat biar bisa pakai toilet tetangga,” ungkap salah seorang siswa.

Ruangan yang paling memprihatinkan adalah perpustakaan sekolah. Ruangan ini sangat tidak layak disebut sebagai perpustakaan karena kondisinya yang lebih mirip gudang buku. Ruangan ini sempit, berdebu, penuh dengan sarang laba-laba yang sudah barang pasti tidak terurus. Tidak ada penerangan dari lampu, cahaya hanya bisa masuk dari celah sempit di atap. Di dalam perpustakaan tidak disediakan buku-buku yang layak baca, ruangan ini dipenuhi buku-buku usang serta barang-barang yang sudah rusak.

Pihak sekolah sesungguhnya telah mengajukan permintaan perbaikan kepada pemerintah, “Beberapa tahun yang lalu kami sudah mengajukan anggaran untuk perbaikan perpustakaan, awalnya pemerintah menjanjikan dalam hitungan bulan perbaikan akan berjalan tapi sampai sekarang itu belum terealisasi,” ungkap Kepala Sekolah SD N 7 Kubutambahan. Beliau juga menambahkan, “Kami dari pihak sekolah berterima kasih banyak seandainya ada pihak yang mau membantu memperbaiki perpustakaan itu sehingga bisa digunakan oleh siswa-siswi kami,”.

Kondisi inilah yang memaksa siswa SD N 7 Kubutambahan menghabiskan jam istirahat mereka dengan permainan anak-anak. Padahal, mereka menginginkan serta membutuhkan keberadaan perpustakaan yang lebih layak dengan bahan bacaan yang cukup, “Maunya sih punya tempat baca buku, apalagi kalau ada komik-komiknya,” ucap salah seorang siswa yang bermain di lapangan siang itu.

Dilihat dari segi keamanannya, sekolah ini belum bisa dikatakan memiliki keamanan yang bagus. Hal ini didukung dengan kenyataan mudahnya orang luar masuk ke lingkungan sekolah. Siang itu pula sekelompok remaja SMP memasuki lingkungan sekolah dengan mudah. Tak cukup sampai di sana, kedatangan orang luar memberi kesempatan siswa-siswi SD untuk melihat hal-hal yang kurang baik. Tak jarang mereka melihat kegiatan merokok yang dilakukan orang luar, hal ini tentunya membawa dampak pada mereka ke depannya.

Kondisi SD N 7 Kubutambahan adalah satu gambaran sekolah dengan infrastruktur yang kurang memadai. Demi mencapai kualitas yang bagus pemerintah mestinya memberi perhatian dan penanganan yang serius terhadap masalah ini. Dari sekian banyak infrastruktur yang harus mendapat perhatian lebih adalah perpustakaan. Dengan perpustakaan siswa bisa mendapat informasi serta ilmu pengetahuan baru. Dengan adanya perpustakaan, siswa bisa mengembangkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki tanpa tergantung dengan adanya guru atau hanya mengandalkan proses belajar mengajar di kelas.

Untuk mengoptimalkan peran perpustakaan, harus ada pengelolaan yang baik. Pengelolaan perpustakaan yang baik dapat meningkatkan kenyamanan perpustakaan sehingga minat siswa ke perpustakaan semakin meningkat. Peningkatan itu bisa mewujudkan tujuan pemerintah untuk meningkatkan minat baca dan kreativitas anak didik. Hal ini akan bermuara pada tercapainya cita-cita Indonesia “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar